Last week Oom Tony told me about a potential buyer of my four year old laptop. He assured me that this buyer would give me a pretty good deal, and he would lend me one of his many laptops while I'm looking for a new one. The price of new laptop has decreased considerably during these years, and now you can get one with 400-500 euro which would have costed you double four years ago. There is also a good deal with the mobile company, in which you could get a new laptop together with a cell phone and a certain abonement agreement just by paying 20 euro per months for 2 years. In short, today is the good time to ditch your old smelly laptop and get a new shiny one.
My laptop needs 10 minutes to boot up (you can take a shower and come back and it's still in the boot-up process). 5 minutes after on, the machine would growl like crazy and the board get as hot as a stove. It is completely useless without the non-stop plugged in battery. It has no webcam, no internal bluetooth, no card reader, no wireless, no DVD or CD burner, no nothing. It weighs like a ton, has no brand, 512 upgraded memory and 40GB internal disc (trust me, those are very very lame in this MacBook era) and was a bit dirty from a non-stop four years exposure to a student life. I was amazed if it could sell at all.
But however ugly my laptop is, it has accompanied me during this time without any major complaint. The keyboards are intact and the speaker never fails. It stays with me in the sleepless nights during my second years report craze, and it hold on when I typed my bloody thesis and presentation. If love exist, it would be justifiable to say that I'm in love with it. If soulmate exist, it was one of the many souls I have. It was a part of me. It knows my bank balances (which shown that I'm always broke) and the dirty little secrets and the skeleton in my closet. Those priceless and unrepleaceable things make me think twice to say yes to the offer.
Then Oom lend me his laptop. A shiny new Hewlett Packard with 2GB working memory and 1024 GB internal disc. Takes 5 seconds to boot up, one second to open a webpage, and a Window vista operator who said "welcome to Windows Vista. I am your official intelligent" every time I log in. It has a DVD and CD burner, weigh half as my old one, and is equipped with a wireless and a card reader. Wow. He said I could get the same laptop with the cellphone abonement system and an additional 70 euro. As you expected, this good deal shake my determination and cut the crap about those sentimentil things I've written in the previous paragraph :-)
So tomorrow afternoon I will say goodbye to my old friend. I'm sure he would be happier with the new owner. Finally he will be at peace. And maybe I will make a new acquintance soon. Yohooo!!
Showing posts with label Miscelaneous. Show all posts
Showing posts with label Miscelaneous. Show all posts
Wednesday, August 20, 2008
Thursday, May 8, 2008
The places where I grew up
1986-1987: Semarang, Tanah Mas
Dari cerita mami, this so so little me had nothing better to do except screwing arround her papers and messing her works. Selalu nangis teriak-teriak kalo oma mau pulang ke Purworejo, selalu nangis teriak-teriak ketakutan kalo oma co dateng dari Jakarta.
1987 - 1989: Jakarta, Cipulir
Hmm I can't recall much of this place, except of its palm trees and yard. Jaman masih kecil belum punya gigi, tahunya cuma ketawa-nangis-ngedot-minta gendong mami. The image of the 3-year old me was a plump little girl with short hair and chubby cheeks, unsynchronized eyes (hahaha), smiling while riding a 3 wheels bike.
1989-1995: Kutoarjo
Masa-masa TK sampai kelas 4 SD, ketemu sahabat sekaligus saingan tak terkalahkan dan tak terlupakan. Rebutan ayunan sama Chandra & Adi W di TK Pius, makan nasi bungkus dari kantin sekolah. Uang 100 rupiah bisa makan siomay sampe kenyang, oh what a world. Les renang. Pagi-pagi digangunin mami dan digotong ke kamar mandi. Anak SD yang pengen cepet-cepet ke SMP. Naik sepeda sore-sore rame-rame, ke arah sunset di bukit deket rumah
1995-2001: Purworejo
Yayy akhirnya SMP, udah merasa gede, pake rok biru yang ga berkibar-kibar lagi kaya pas SD. Main basket sore-sore sampe jadi item, main gitar di aula sekolah sama anak-anak asrama cowok yang dulu terlihat amat sangat keren, padahal in reality bau dan tak pernah mandi hehehe. The after-class unforgettable moment when I, well we, did something we shouldn't have done but it's okay. Ngegosip sama temen-temen tentang itazura na kis ( both movie and reality). Wah pengen cepet-cepet SMA nih.
2001-2004: Jogjakarta, kotabaru
The most noticeable moment in my life. Tinggal serumah bareng 13 anak cewek lain dari berbagai kota, dari yang ngomong medok banget sampe yang ga bisa ngomong jawa. Dari yang punya pacar naik mobil sampe punya pacar naik sepeda. Main CS bareng Ryo. Makan soto di kantin; renang jumat sore; tidur pas pelajaran pak Pram; project biology dibayarin sama pak ari; nyontek pas akuntansi; tidur pas retret; cat rambut tindik kuping; kabur pas upacara; sederetan catetan pelanggaran di buku bu Nanik; pelajaran seni tari yang bikin pegel; Still overshadowed by the someone I did something I shouldn't have done with; Punya geng F6 sampe akhirnya ketemu Chika & Ndhu2, my best ever pas kelas 3. Wish the time would stop at this point. Rasanya kita masih bisa jadi apa saja, bisa terbang ke langit. The most enjoyable moment when we were not kids anymore but not adults yet.
2004: Groesbeek, the Netherlands
Rumah di tengah-tengah peternakan, dihuni oleh 4 orang asia under age. Mikir mau ambil halte yang mana tiap pagi. Tidur di bus. Sauna & renang sore-sore. kenapa SMA lewat begitu cepat?
2004-2007: Nijmegen, the Netherlands
first year, second year, third year gone so fast. Oh please brake the time and let us unload our burden for a while. Reports, experiments, internships, frantically wishing for more hours in a day. kangen masa dimana masih bisa naik sepeda roda 3, main gitar di aula sekolah, dan ke galeria mall habis pulang sekolah. Masa-masa dimana keegoisan tidak punya tempat. Homesick mendera lebih sering dari apapun. Memandang dunia dalam kehitam dan putihan tanpa ada area abu-abu diantaranya. The childish soul acted strong. Just realize that a few childhood friends last more than ever.
2007-2008: Eindhoven, the Netherlands
The final year that determines everything. Rumah penuh dengan imigran eropa yang ga bisa bahasa belanda. Menikmati masa-masa ngafe dan clubbing yang sebetulnya hanya escapism. Desperate untuk betul-betul mengerem waktu. Merasa tidak bisa melakukan yang terbaik. Stress, takut, dan berusaha pasrah dan mendekatkan diri pada Yang Kuasa. Desperate untuk meminta lebih dari 24 jam dalam sehari. Homesick. berpapasan dengan 2 orang yang mengajarkan banyak hal dalam waktu singkat. I would give anything to be back to that 3-wheeled bikes and going out to see the sunset in that hill again...
Dari cerita mami, this so so little me had nothing better to do except screwing arround her papers and messing her works. Selalu nangis teriak-teriak kalo oma mau pulang ke Purworejo, selalu nangis teriak-teriak ketakutan kalo oma co dateng dari Jakarta.
1987 - 1989: Jakarta, Cipulir
Hmm I can't recall much of this place, except of its palm trees and yard. Jaman masih kecil belum punya gigi, tahunya cuma ketawa-nangis-ngedot-minta gendong mami. The image of the 3-year old me was a plump little girl with short hair and chubby cheeks, unsynchronized eyes (hahaha), smiling while riding a 3 wheels bike.
1989-1995: Kutoarjo
Masa-masa TK sampai kelas 4 SD, ketemu sahabat sekaligus saingan tak terkalahkan dan tak terlupakan. Rebutan ayunan sama Chandra & Adi W di TK Pius, makan nasi bungkus dari kantin sekolah. Uang 100 rupiah bisa makan siomay sampe kenyang, oh what a world. Les renang. Pagi-pagi digangunin mami dan digotong ke kamar mandi. Anak SD yang pengen cepet-cepet ke SMP. Naik sepeda sore-sore rame-rame, ke arah sunset di bukit deket rumah
1995-2001: Purworejo
Yayy akhirnya SMP, udah merasa gede, pake rok biru yang ga berkibar-kibar lagi kaya pas SD. Main basket sore-sore sampe jadi item, main gitar di aula sekolah sama anak-anak asrama cowok yang dulu terlihat amat sangat keren, padahal in reality bau dan tak pernah mandi hehehe. The after-class unforgettable moment when I, well we, did something we shouldn't have done but it's okay. Ngegosip sama temen-temen tentang itazura na kis ( both movie and reality). Wah pengen cepet-cepet SMA nih.
2001-2004: Jogjakarta, kotabaru
The most noticeable moment in my life. Tinggal serumah bareng 13 anak cewek lain dari berbagai kota, dari yang ngomong medok banget sampe yang ga bisa ngomong jawa. Dari yang punya pacar naik mobil sampe punya pacar naik sepeda. Main CS bareng Ryo. Makan soto di kantin; renang jumat sore; tidur pas pelajaran pak Pram; project biology dibayarin sama pak ari; nyontek pas akuntansi; tidur pas retret; cat rambut tindik kuping; kabur pas upacara; sederetan catetan pelanggaran di buku bu Nanik; pelajaran seni tari yang bikin pegel; Still overshadowed by the someone I did something I shouldn't have done with; Punya geng F6 sampe akhirnya ketemu Chika & Ndhu2, my best ever pas kelas 3. Wish the time would stop at this point. Rasanya kita masih bisa jadi apa saja, bisa terbang ke langit. The most enjoyable moment when we were not kids anymore but not adults yet.
2004: Groesbeek, the Netherlands
Rumah di tengah-tengah peternakan, dihuni oleh 4 orang asia under age. Mikir mau ambil halte yang mana tiap pagi. Tidur di bus. Sauna & renang sore-sore. kenapa SMA lewat begitu cepat?
2004-2007: Nijmegen, the Netherlands
first year, second year, third year gone so fast. Oh please brake the time and let us unload our burden for a while. Reports, experiments, internships, frantically wishing for more hours in a day. kangen masa dimana masih bisa naik sepeda roda 3, main gitar di aula sekolah, dan ke galeria mall habis pulang sekolah. Masa-masa dimana keegoisan tidak punya tempat. Homesick mendera lebih sering dari apapun. Memandang dunia dalam kehitam dan putihan tanpa ada area abu-abu diantaranya. The childish soul acted strong. Just realize that a few childhood friends last more than ever.
2007-2008: Eindhoven, the Netherlands
The final year that determines everything. Rumah penuh dengan imigran eropa yang ga bisa bahasa belanda. Menikmati masa-masa ngafe dan clubbing yang sebetulnya hanya escapism. Desperate untuk betul-betul mengerem waktu. Merasa tidak bisa melakukan yang terbaik. Stress, takut, dan berusaha pasrah dan mendekatkan diri pada Yang Kuasa. Desperate untuk meminta lebih dari 24 jam dalam sehari. Homesick. berpapasan dengan 2 orang yang mengajarkan banyak hal dalam waktu singkat. I would give anything to be back to that 3-wheeled bikes and going out to see the sunset in that hill again...
Wednesday, April 23, 2008
Deja-Vu
Beberapa hari yang lalu, seorang temen SMU yang udah lama banget ga pernah kontak mendadak menyapa di MSN. Dasar manusia selalu berprasangka, pikiran pertama yang hinggap di pikiran adalah “wah, pasti ada apa-apanya nih. Ga mungkin dia cuma ngajak chat untuk sekedar tanya-tanya kabar atau haha-hihi doang”. Untungnya, saya nggak salah berprasangka kali ini karena prasangka saya terbukti ada benernya. Dia sedang punya masalah dengan X, cowoknya yang sudah dipacari sejak kelas 3 SMU. (gila, banyak juga ternyata orang yang betah pacaran lama-lama sama orang yang sama. Ga bosen apa ketemu orang itu-itu doang tiap hari? Hehehe sotoy =). Dengan sotoynya lagi, saya bilang kalo dia hebat banget bisa bertahan selama 4 tahun pacaran sama The coldest and scariest person ever, si Mr. X. Ohhh betapa salahnya kalimat ini, karena ternyata itulah akar dari semua permasalahan temen saya tercinta.
From the beginning, I told her that maybe she couldn’t get any useful suggestion from me, but I was all ears if she still wanted to tell her story. Mulailah curhat standard sesama cewek yang pernah begitu deket jaman semuanya masih indah, tapi sekarang cuma dua orang asing yang kebetulan bertemu di MSN. Well, sometimes it’s easier to talk to a stranger than to someone you know, rite? Masalahnya, selama 4 tahun ini dia merasa Mr. X ga pernah serius menganggap dia ceweknya. Dia nggak pernah bilang “aku sayang kamu”, selalu lupa tanggal jadian mereka, ngga pernah ngasih cokelat valentine, dsb dsb. Yah, saya bisa bilang kalo itu wajar. Cowok nggak sepeka cewek dalam mengingat-ingat hal ga penting kaya begitu (saya termasuk kategori cewek cuek yang nggak pernah inget begituan juga. Tahunya cuma bisa terima coklat valentine tanpa pernah memberi balik =D tapi saya seneng lho dikasih coklat hehehe).
So I told her for not thinking anything stupid, karena dia adalah cewek yang udah berhasil menaklukan the coldest and scariest Mr. X, yang dulu terkenal di SMA saya (yang isinya cewek semua) dengan reputasinya yang anti cewek. Jangan salah, dia sama sekali nggak kemayu (kalau kemayu dan anti cewek bisa jadi dia gay). Lalu saya ajak dia untuk mengingat-ingat poin-poin si Mr. X yang bagus, yang bikin dia jatuh hati dulu. Dia bilang, si X ini bener-bener macho dan keren. Orang yang bisa diandalkan dalam segala situasi, berjiwa kepemimpinan, pinter, atletik, sekarang udah kerja di salah satu perusahaan terkemuka di Jakarta, udah deh pokoknya menantu idaman. Saya setuju, karena si Mr x yang saya kenal dulu memang begitu orangnya. Ortu masing2 juga sudah tau dan sudah merestui hubungan mereka. Those things left me in question about what is not working? Kalau cuma masalah nggak inget hari valentine atau lupa tanggal jadian kan biasa, bukan masalah besar lah.
Dia makin bersemangat mengetik. Ternyata, si Mr X ini bukan hanya dingin dan pelit dalam berkata-kata gombal, dia juga dingin dan pelit dalam menunjukkan lewat sentuhan, ciuman, pelukan, ato gandengan tangan. Pokoknya selama 4 tahun masa pacaran mereka, Mr X nggak pernah berubah. Kalau mereka berjalan di publik, mereka jarang sekali bergandengan tangan. Mereka ciuman pipi hanya kalau akan berpisah saja. Ciuman yang lain saya nggak tahu dan nggak mau tahu hehehe. Moreover, sifat-sifat Mr X yang nyaris sempurna (macho, leadership talent, athletic, masa depan cerah, dsb) ditambah sifat dinginnya, adalah kombinasi yang mematikan. Kombinasi ini menyebabkan teman saya merasa insecure, merasa inferior, dan terjebak. Insecure karena dia tidak pernah bisa menebak apa yang ada di pikiran Mr X, inferior karena dia merasa Mr X terlalu bagus dan dia terlalu jelek, dan terjebak karena semua orang terus menerus berkata betapa beruntungnya dia. Dia merasa banyak orang yang merasa terkhianati kalau sampai dia merasa nggak puas dengan hubungan mereka yang tampaknya sangat sempurna. Dia nggak bisa membayangkan bagaimana caranya bertahan begitu terus untuk waktu yang amat sangat lama (kalau suatu hari nanti mereka married). Oh ternyata begitu.
Saya bertanya apakah dia sudah pernah mencoba mengkomunikasikan masalah ini ke Mr X; apakah dia pernah menunjukkan pada si X kalau dia haus belaian (astaga bahasanya). Pertanyaan yang salah ternyata, sodara-sodara. Karena dia tidak berani mengatakan ini. Dia sudah berusaha mengambil langkah pertama dengan menggandeng tangan, memeluk duluan, dsb, tapi tanggapannya selalu tidak memuaskan. Selalu dijawab dengan “apaan sih kamu?”, atau “manja banget sih!” atau jawaban-jawaban lain yang serupa. Untuk langsung mengkonfrontasi, dia tidak berani (bisa dibayangkan. Si Mr X ini bener-bener menyeramkan). Dia bilang “I should have known when we were still trying to know each other. I should have seen the sign because he was already like that since the beginning. I thought he would change once we were in a relationship, but apparently not.”Sebenernya dalam hari saya mulai berpikir kalo si Mr. X ini mungkin emang beneran gay. Saya simpan pikiran ini dalam hati saja karena kulit saya belum setebal badak sampai berani bilang terang-terangan. Saya menyesal karena tidak bisa memberi saran lebih jauh. So I bade her goodbye and good luck with solving her problem.
Cerita saya tampaknya sudah berakhir dan anda masih bertanya-tanya dimana Deja-Vu nya? Saya terdiam dan merasa mengalami Deja-Vu karena sekarang saya juga kebetulan dekat dengan seseorang yang sangaaat mirip dengan Mr. X, sebut saja Mr. Y (wah lama-lama mirip cerita kriminal di Detik.com, pakai inisial semua hehehe). Orang yang perfect, atletik, pinter, dari keluarga baik-baik, mapan, tapi dingin seperti es. Saya juga berpikir bahwa siakpnya akan berbeda dengan cewek yang sudah jadi pacarnya, but who the hell knows? Yang jelas saya yakin dia bukan gay =D. Persamaan kedua, saya juga tidak berani mengatakan langsung pada si Y kalau saya pengen digandeng, dipeluk, etc. Saya even ga berani mengambil langkah duluan karena rasanya si Y ini egonya mengalahkan luas samudra Pasifik;COWOK YANG HARUS MULAI DULUAN. Resiko malu tidak sebanding dengan tindakan itu. Banyak juga orang yang menghormati Mr. Y ini. Yang membedakan saya dan temen curhat saya ini hanyalah status. Saya bukan pacar Mr. Y dan saya tidak mengenal dia seperti temen saya mengenal Mr. X. Merasa senang karena ada teman senasib bukanlah poin saya.
The point is, I’m glad for knowing that I’m not the only girl who think that affection, hugs, kisses, and touch are necessary in showing the people that you like them. I’m glad for knowing that I’m not a maniac for wanting to be hugged and having my hands held. I’m glad for knowing that it’s probably okay for not brave enough to tell the people we like that we want to be hugged and having our hands held…
From the beginning, I told her that maybe she couldn’t get any useful suggestion from me, but I was all ears if she still wanted to tell her story. Mulailah curhat standard sesama cewek yang pernah begitu deket jaman semuanya masih indah, tapi sekarang cuma dua orang asing yang kebetulan bertemu di MSN. Well, sometimes it’s easier to talk to a stranger than to someone you know, rite? Masalahnya, selama 4 tahun ini dia merasa Mr. X ga pernah serius menganggap dia ceweknya. Dia nggak pernah bilang “aku sayang kamu”, selalu lupa tanggal jadian mereka, ngga pernah ngasih cokelat valentine, dsb dsb. Yah, saya bisa bilang kalo itu wajar. Cowok nggak sepeka cewek dalam mengingat-ingat hal ga penting kaya begitu (saya termasuk kategori cewek cuek yang nggak pernah inget begituan juga. Tahunya cuma bisa terima coklat valentine tanpa pernah memberi balik =D tapi saya seneng lho dikasih coklat hehehe).
So I told her for not thinking anything stupid, karena dia adalah cewek yang udah berhasil menaklukan the coldest and scariest Mr. X, yang dulu terkenal di SMA saya (yang isinya cewek semua) dengan reputasinya yang anti cewek. Jangan salah, dia sama sekali nggak kemayu (kalau kemayu dan anti cewek bisa jadi dia gay). Lalu saya ajak dia untuk mengingat-ingat poin-poin si Mr. X yang bagus, yang bikin dia jatuh hati dulu. Dia bilang, si X ini bener-bener macho dan keren. Orang yang bisa diandalkan dalam segala situasi, berjiwa kepemimpinan, pinter, atletik, sekarang udah kerja di salah satu perusahaan terkemuka di Jakarta, udah deh pokoknya menantu idaman. Saya setuju, karena si Mr x yang saya kenal dulu memang begitu orangnya. Ortu masing2 juga sudah tau dan sudah merestui hubungan mereka. Those things left me in question about what is not working? Kalau cuma masalah nggak inget hari valentine atau lupa tanggal jadian kan biasa, bukan masalah besar lah.
Dia makin bersemangat mengetik. Ternyata, si Mr X ini bukan hanya dingin dan pelit dalam berkata-kata gombal, dia juga dingin dan pelit dalam menunjukkan lewat sentuhan, ciuman, pelukan, ato gandengan tangan. Pokoknya selama 4 tahun masa pacaran mereka, Mr X nggak pernah berubah. Kalau mereka berjalan di publik, mereka jarang sekali bergandengan tangan. Mereka ciuman pipi hanya kalau akan berpisah saja. Ciuman yang lain saya nggak tahu dan nggak mau tahu hehehe. Moreover, sifat-sifat Mr X yang nyaris sempurna (macho, leadership talent, athletic, masa depan cerah, dsb) ditambah sifat dinginnya, adalah kombinasi yang mematikan. Kombinasi ini menyebabkan teman saya merasa insecure, merasa inferior, dan terjebak. Insecure karena dia tidak pernah bisa menebak apa yang ada di pikiran Mr X, inferior karena dia merasa Mr X terlalu bagus dan dia terlalu jelek, dan terjebak karena semua orang terus menerus berkata betapa beruntungnya dia. Dia merasa banyak orang yang merasa terkhianati kalau sampai dia merasa nggak puas dengan hubungan mereka yang tampaknya sangat sempurna. Dia nggak bisa membayangkan bagaimana caranya bertahan begitu terus untuk waktu yang amat sangat lama (kalau suatu hari nanti mereka married). Oh ternyata begitu.
Saya bertanya apakah dia sudah pernah mencoba mengkomunikasikan masalah ini ke Mr X; apakah dia pernah menunjukkan pada si X kalau dia haus belaian (astaga bahasanya). Pertanyaan yang salah ternyata, sodara-sodara. Karena dia tidak berani mengatakan ini. Dia sudah berusaha mengambil langkah pertama dengan menggandeng tangan, memeluk duluan, dsb, tapi tanggapannya selalu tidak memuaskan. Selalu dijawab dengan “apaan sih kamu?”, atau “manja banget sih!” atau jawaban-jawaban lain yang serupa. Untuk langsung mengkonfrontasi, dia tidak berani (bisa dibayangkan. Si Mr X ini bener-bener menyeramkan). Dia bilang “I should have known when we were still trying to know each other. I should have seen the sign because he was already like that since the beginning. I thought he would change once we were in a relationship, but apparently not.”Sebenernya dalam hari saya mulai berpikir kalo si Mr. X ini mungkin emang beneran gay. Saya simpan pikiran ini dalam hati saja karena kulit saya belum setebal badak sampai berani bilang terang-terangan. Saya menyesal karena tidak bisa memberi saran lebih jauh. So I bade her goodbye and good luck with solving her problem.
Cerita saya tampaknya sudah berakhir dan anda masih bertanya-tanya dimana Deja-Vu nya? Saya terdiam dan merasa mengalami Deja-Vu karena sekarang saya juga kebetulan dekat dengan seseorang yang sangaaat mirip dengan Mr. X, sebut saja Mr. Y (wah lama-lama mirip cerita kriminal di Detik.com, pakai inisial semua hehehe). Orang yang perfect, atletik, pinter, dari keluarga baik-baik, mapan, tapi dingin seperti es. Saya juga berpikir bahwa siakpnya akan berbeda dengan cewek yang sudah jadi pacarnya, but who the hell knows? Yang jelas saya yakin dia bukan gay =D. Persamaan kedua, saya juga tidak berani mengatakan langsung pada si Y kalau saya pengen digandeng, dipeluk, etc. Saya even ga berani mengambil langkah duluan karena rasanya si Y ini egonya mengalahkan luas samudra Pasifik;COWOK YANG HARUS MULAI DULUAN. Resiko malu tidak sebanding dengan tindakan itu. Banyak juga orang yang menghormati Mr. Y ini. Yang membedakan saya dan temen curhat saya ini hanyalah status. Saya bukan pacar Mr. Y dan saya tidak mengenal dia seperti temen saya mengenal Mr. X. Merasa senang karena ada teman senasib bukanlah poin saya.
The point is, I’m glad for knowing that I’m not the only girl who think that affection, hugs, kisses, and touch are necessary in showing the people that you like them. I’m glad for knowing that I’m not a maniac for wanting to be hugged and having my hands held. I’m glad for knowing that it’s probably okay for not brave enough to tell the people we like that we want to be hugged and having our hands held…
Wednesday, February 13, 2008
2008 Reformation
Those are neither resolution not revolution; nothing fancy like that. It is because normally both resolution and revolution mean radical changes, extreme makeover, which in some point become unrealistic and less probable to be fulfilled. So I choose to stick to 'Reformation', that is less radical and extreme.
So here we are, my 2008 reformation:
So here we are, my 2008 reformation:
- Read scientific articles more, read manga less
- Read non fiction more, read fiction less
- Work out more, sitting less
- Walk out more, internetting less
- Sport more, eat less
- Eat vegs and fruits more, eat carbs less
- Eat fish more, eat processed meat less
- Write report more, chatting less
- Talk more to my parents
- Earn money more (somehow), spending less
- Travelling more, shopping less
- Focus during the experiments more and not less
By the end of 2008 I'm gonna check how far I've done. The parameters are easy: weight loss, muscle gain, more money in Bank account, number of countrries in the list, successful experiments, and increased knowledge (the lattest is quite tricky to measure).
Subscribe to:
Posts (Atom)